Tuesday, October 20, 2015

PENGERTIAN SIKAP BELAJAR SISWA MENURUT AHLI PENDIDIKAN

      Sikap Belajar Siswa

Zuchdi (2008: 28) mengungkapkan bahwa kompetensi afektif anak-anak terkait dengan sekolah yang berwujud: sikap, nilai (karakter), kesadaran akan harga diri, motivasi, minat, dan sebagainya yang kesemuanya itu jelas dipengaruhi oleh beberapa faktor. Beberapa dari faktor tersebut adalah karakteristik dan latar belakang murid itu sendiri, seperti seks, umur, status sosial ekonomi, capaian belajar, dan kepribadian. Di samping itu, ada pengaruh yang terkait dengan suasana sekolah, seperti guru, suasana kelas, materi kurikulum, dan strategi instruksional.

Kompetensi afektif yang difokuskan pada penelitian ini yaitu mengenai sikap. Menurut kamus standar Bahasa Indonesia (Azman, 2001: 431), sikap diartikan sebagai perbuatan yang berdasarkan pada pendirian, pendapat atau keyakinan. Sedangkan menurut Rahayuningsih (2008: 1), sikap yakni suatu bentuk dari perasaan, yaitu perasaan mendukung atau memihak (favourable) maupun perasaan tidak mendukung (unfavourable) pada suatu objek. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu, apabila dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon.

Trow (dalam Djaali, 2008: 114) mendefinisikan sikap belajar sebagai suatu kesiapan mental atau emosional siswa dalam beberapa jenis tindakan pada situasi yang tepat. Disini Trow lebih menekankan pada kesiapan mental atau emosional seseorang terhadap sesuatu objek tertentu. Sedangkan, Harlen (dalam Djaali, 2008: 114) mengemukakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kecenderungan seseorang untuk bertindak dalam menghadapi suatu objek atau situasi tertentu.

Sementara itu, Allport (dalam Djaali, 2008: 114) mengemukakan bahwa sikap merupakan sesuatu hal berupa kesiapan mental dan saraf yang tersusun melalui pengalaman dan memberikan pengaruh langsung kepada respons individu terhadap semua objek atau situasi yang berhubungan dengan objek itu. Definisi sikap menurut Allport ini menunjukkan bahwa sikap itu tidak mencul seketika atau dibawa lahir, akan tetapi disusun dan dibentuk melalui pengalaman serta memberikan pengaruh langsung kepada respons seseorang.

Cardno (dalam Djaali, 2008: 114-115) mendefinisikan sikap sebagai berikut: Attitude entails an existing predisposition to response to social object which in interaction with situational and other dispositional variables, guides and directs the overt behavior of the individual. Maksud dari pernyataan tersebut yakni bahwa dalam istilah  kecenderungan (predisposition), terkandung pengertian arah tindakan yang akan dilakukan seseorang berkenaan dengan suatu objek. Arah tersebut dapat bersifat mendekati atau menjauhi. Tindakan mendekati atau menjauhi suatu objek (orang, benda, ide, lingkungan, dan lain-lain), dilandasi oleh perasaan penilaian individu  yang bersangkutan terhadap objek tersebut. Misalnya, ia menyukai atau tidak menyukainya, menyenangi atau tidak menyenanginya, meneyetujui atau  tidak menyetujuinya.

Djaali (2008: 116) menjelaskan bahwa sikap belajar ikut menentukan intensitas kegiatan belajar. Sikap belajar yang positif akan menimbulkan intensitas kegiatan yang lebih tinggi dibanding dengan sikap belajar yang negatif. Peranan sikap bukan saja ikut menentukan apa yang dilihat seseorang, melainkan juga bagaimana ia melihatnya.

Azwar (dalam Djaali, 2008: 120-121) mengemukakan bahwa salah satu fungsi dari sikap bagi individu ialah fungsi instrumental atau fungsi manfaat. Maksudnya adalah setiap individu akan bersikap positif terhadap hal-hal yang mendatangkan kebermanfaatan bagi dirinya, dan bersikap negatif terhadap hal-hal yang tidak membawa manfaat atau bahkan membahayakan dirinya.
Menurut Sardiman (2003: 28), dalam menumbuhkan sikap mental, spiritual, perilaku, dan pribadi anak didik, guru harus lebih bijak dan hati-hati dalam pendekatannya. Untuk itu dibutuhkan kecakapan dalam mengarahkan motivasi dan berpikir dengan tidak lupa menggunakan pribadi guru itu sendiri sebagai contoh atau model.


Lebih lanjut, Sardiman (2003: 28) menjelaskan bahwa pembentukan sikap mental dan perilaku anak didik tidak akan terlepas dari soal penanaman nilai-nilai karakter, transfer of values. Oleh karena itu, guru tidak sekedar “pengajar”, tetapi betul-betul sebagai pendidik yang akan memindahkan nilai-nilai itu kepada anak didiknya. 

No comments:

Post a Comment