Thursday, December 17, 2015

Sifat Jujur Sangat Penting dalam Hidup Bermasyarakat

Menjadi bagian dari masyarakat, maka seyogyanya kita sebagai makhluk sosial harus siap bergaul dengan mereka secara baik. Berbuat baik terhadap saudara, teman, lingkungan keluarga dan masyarakat sangat dianjurkan dalam islam, sehingga keberadaan manusia juga harus mampu bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Pendidikan islam telah mengajarkan kepada setiap manusia untuk senantiasa menanamkan nilai-nilai kebaikan dimanapun berada, termasuk sifat jujur harus selalu ditanamkan pada diri seseorang.

Kita harus belajar dari sosok terbaik sepanjang masa, yakni Rasullullah, Muhammad SAW, yang dalam kesehariannya ia selalu bersifat jujur, amanah, cerdas, dan dapat menjalankan semua aktivitas harian dengan penuh rasa tanggungjawab, kesatria perang, dan mampu mengubah dunia dengan nuansa islam, di seluruh penjuru dunia.

Sifat jujur adalah salah satu kebaikan yang harus kita junjung. Beberapa manfaat ketika kita melakukan sifat jujur adalah kita mudah bergaul dengan orang lain, mudah dipercayai oleh orang lain, hidup akan menjadi rukun dan damai, serta banyak menyebabkan teman yang menyukai kejujuran kita dalam segala hal.

Jadi sudah seharusnya sifat jujur harus ditanamkan dalam diri dan aktivitas sehari-hari kita. Semoga kita semua selalu dalam lingkungan Allah SWT, dan ditunjukkan jalan kebenaran menuju cahaya iman yang kuat..aamiin.

Tuesday, October 20, 2015

Pengertian Lingkungan Ekologis Menurut Pakar Pendidikan

      Lingkungan Ekologis
Sartain (dalam Purwanto, 2007: 72) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lingkungan (environment) meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku, pertumbuhan, perkembangan, atau life processes kita kecuali gen-gen. Sartain membagi lingkungan menjadi tiga bagian penting terkait dengan lingkungan ekologis yakni lingkungan alam atau luar, lingkungan dalam, dan lingkungan sosial.

Lingkungan yang dimaksud pada penelitian ini yaitu lingkungan alam atau luar. Sartain (dalam Purwanto, 2007: 72) menjelaskan bahwa yang dimaksud lingkungan alam atau luar ialah segala sesuatu yang ada dalam dunia ini yang bukan manusia, seperti rumah, tumbuh-tumbuhan, air, hewan, kondisi iklim, maupun cuaca.

Hamalik (2004: 195) menjelaskan bahwa istilah lain yang erat kaitannya dengan lingkungan adalah “ekologis” atau sering disebut “lingkungan hidup”. Ekologi terdiri dari bio-ekologi, geo-ekologi, dan kultur-ekologi. Bio-ekologi mencakup unsur lingkungan yang hidup (komponen hayati) yang meliputi manusia, tumbuh-tumbuhan, dan binatang. Geo-ekologi mencakup alam seperti bumi, air, matahari, dan sebagainya. Kultur-ekologi mencakup budaya dan teknologi kekinian.


Lebih lanjut, Hamalik (2004: 195) menjelaskan bahwa lingkungan hidup sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia, dan sebaliknya manusia dapat mengubah ekologi itu sendiri sesuai kemauan mereka, baik secara positif (konstruktif) ataupun negatif (destruktif). Ekologi yang rusak pada gilirannya dapat merusak kehidupan manusia itu sendiri, padahal kerusakan lingkungan tersebut akibat ulah dan perilaku manusia yang tak bertanggung jawab. 

PENGERTIAN SIKAP BELAJAR SISWA MENURUT AHLI PENDIDIKAN

      Sikap Belajar Siswa

Zuchdi (2008: 28) mengungkapkan bahwa kompetensi afektif anak-anak terkait dengan sekolah yang berwujud: sikap, nilai (karakter), kesadaran akan harga diri, motivasi, minat, dan sebagainya yang kesemuanya itu jelas dipengaruhi oleh beberapa faktor. Beberapa dari faktor tersebut adalah karakteristik dan latar belakang murid itu sendiri, seperti seks, umur, status sosial ekonomi, capaian belajar, dan kepribadian. Di samping itu, ada pengaruh yang terkait dengan suasana sekolah, seperti guru, suasana kelas, materi kurikulum, dan strategi instruksional.

Kompetensi afektif yang difokuskan pada penelitian ini yaitu mengenai sikap. Menurut kamus standar Bahasa Indonesia (Azman, 2001: 431), sikap diartikan sebagai perbuatan yang berdasarkan pada pendirian, pendapat atau keyakinan. Sedangkan menurut Rahayuningsih (2008: 1), sikap yakni suatu bentuk dari perasaan, yaitu perasaan mendukung atau memihak (favourable) maupun perasaan tidak mendukung (unfavourable) pada suatu objek. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu, apabila dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon.

Trow (dalam Djaali, 2008: 114) mendefinisikan sikap belajar sebagai suatu kesiapan mental atau emosional siswa dalam beberapa jenis tindakan pada situasi yang tepat. Disini Trow lebih menekankan pada kesiapan mental atau emosional seseorang terhadap sesuatu objek tertentu. Sedangkan, Harlen (dalam Djaali, 2008: 114) mengemukakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kecenderungan seseorang untuk bertindak dalam menghadapi suatu objek atau situasi tertentu.

Sementara itu, Allport (dalam Djaali, 2008: 114) mengemukakan bahwa sikap merupakan sesuatu hal berupa kesiapan mental dan saraf yang tersusun melalui pengalaman dan memberikan pengaruh langsung kepada respons individu terhadap semua objek atau situasi yang berhubungan dengan objek itu. Definisi sikap menurut Allport ini menunjukkan bahwa sikap itu tidak mencul seketika atau dibawa lahir, akan tetapi disusun dan dibentuk melalui pengalaman serta memberikan pengaruh langsung kepada respons seseorang.

Cardno (dalam Djaali, 2008: 114-115) mendefinisikan sikap sebagai berikut: Attitude entails an existing predisposition to response to social object which in interaction with situational and other dispositional variables, guides and directs the overt behavior of the individual. Maksud dari pernyataan tersebut yakni bahwa dalam istilah  kecenderungan (predisposition), terkandung pengertian arah tindakan yang akan dilakukan seseorang berkenaan dengan suatu objek. Arah tersebut dapat bersifat mendekati atau menjauhi. Tindakan mendekati atau menjauhi suatu objek (orang, benda, ide, lingkungan, dan lain-lain), dilandasi oleh perasaan penilaian individu  yang bersangkutan terhadap objek tersebut. Misalnya, ia menyukai atau tidak menyukainya, menyenangi atau tidak menyenanginya, meneyetujui atau  tidak menyetujuinya.

Djaali (2008: 116) menjelaskan bahwa sikap belajar ikut menentukan intensitas kegiatan belajar. Sikap belajar yang positif akan menimbulkan intensitas kegiatan yang lebih tinggi dibanding dengan sikap belajar yang negatif. Peranan sikap bukan saja ikut menentukan apa yang dilihat seseorang, melainkan juga bagaimana ia melihatnya.

Azwar (dalam Djaali, 2008: 120-121) mengemukakan bahwa salah satu fungsi dari sikap bagi individu ialah fungsi instrumental atau fungsi manfaat. Maksudnya adalah setiap individu akan bersikap positif terhadap hal-hal yang mendatangkan kebermanfaatan bagi dirinya, dan bersikap negatif terhadap hal-hal yang tidak membawa manfaat atau bahkan membahayakan dirinya.
Menurut Sardiman (2003: 28), dalam menumbuhkan sikap mental, spiritual, perilaku, dan pribadi anak didik, guru harus lebih bijak dan hati-hati dalam pendekatannya. Untuk itu dibutuhkan kecakapan dalam mengarahkan motivasi dan berpikir dengan tidak lupa menggunakan pribadi guru itu sendiri sebagai contoh atau model.


Lebih lanjut, Sardiman (2003: 28) menjelaskan bahwa pembentukan sikap mental dan perilaku anak didik tidak akan terlepas dari soal penanaman nilai-nilai karakter, transfer of values. Oleh karena itu, guru tidak sekedar “pengajar”, tetapi betul-betul sebagai pendidik yang akan memindahkan nilai-nilai itu kepada anak didiknya. 

PENGERTIAN HASIL BELAJAR MENURUT PARA AHLI PENDIDIKAN

      Hasil Belajar Menurut Para Ahli Pendidikan
Proses belajar akan menghasilkan hasil belajar. Sardiman (2003: 28) menjelaskan bahwa hasil belajar meliputi: a) hal ihwal keilmuan dan pengetahuan, konsep atau fakta (kognitif), b) hal ihwal personal, kepribadian, atau sikap (afektif), c) hal ihwal kelakuan, keterampilan, atau penampilan (psikomotorik). Lebih lanjut, Sardiman (2003: 29) menyebutkan bahwa ketiga hasil belajar di atas dalam pengajaran merupakan tiga hal yang secara perencanaan dan programatik terpisah, namun dalam kenyataannya pada diri siswa akan merupakan satu kesatuan yang utuh dan bulat.

Anderson (dalam Widodo, 2006: 140) menguraikan dimensi proses kognitif pada taksonomi Bloom Revisi baru yang mencakup beberapa komponen penting, diantaranya adalah: 1) menghafal (remember), yaitu menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang, 2) memahami (understand), yaitu mengkonstruk makna atau pengertian berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki, atau mengintegrasikan pengetahuan yang baru ke dalam skema yang ada dalam pemikiran siswa, 3) mengaplikasikan (apply), yaitu penggunaan suatu prosedur guna menyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas, 4) menganalisis (analyze), yaitu menguraikan suatu permasalahan atau obyek ke unsur-unsurnya dan menentukan bagaimana saling keterkaitan antar unsur-unsur tersebut, 5) mengevaluasi (evaluate), yaitu membuat suatu pertimbangan berdasarkan kriteria dan standar yang ada, dan 6) membuat (create), yaitu menggabungkan beberapa unsur menjadi suatu bentuk kesatuan.


Menurut Hamalik (2004: 30), hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan pada aspek-aspek berikut ini: 1) pengetahuan, 2) pengertian, 3) kebiasaan, 4) keterampilan, 5) apresiasi, 6) emosional, 7) hubungan sosial, 8) jasmani, etis atau budi pekerti, dan 10) sikap.

KOSEP DASAR BELAJAR DAN PROSES BELAJAR MENURUT AHLI PENDIDIKAN

      Belajar dan Proses Belajar
Cronbach (dalam Suryabrata, 2007: 231) mengungkapkan bahwa belajar yang sangat sebaik-baiknya adalah dengan mengalami secara langsung, dan dalam mengalami itu si pelajar menggunakan pancainderanya. Sesuai dengan pendapat tersebut, Harold Spears (dalam Suryabrata, 2007: 231) menyatakan bahwa belajar adalah mengobservasi (meninjau langsung), membaca, mencontoh, mencoba sesuatu sendiri, mendengar, dan mengikuti petunjuk. 

Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999: 17-18) belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan dari guru. Belajar bagi siswa merupakan suatu proses. Siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Bahan belajar tersebut berupa keadaan alam, hewan, tumbuhan, manusia dan bahan yang terhimpun dalam buku-buku pelajaran. Proses belajar dari segi guru dapat diamati secara tidak langsung. Artinya, proses belajar yang merupakan proses internal siswa tidak dapat diamati, tetapi dapat dipahami oleh guru melalui perilaku siswa mempelajari bahan belajar.

Menurut Bruner (dalam Nasution, 2008: 9-10), dalam kegiatan proses belajar dapat dibedakan tiga fase (tahapan penting) atau episode, yakni : 1) informasi, 2) transformasi, 3) evaluasi. Ketiga episode ini selalu ada dalam proses belajar. Lama tiap episode tidak selalu sama. Hal ini antara lain juga bergantung pada hasil yang diharapkan, motivasi murid belajar, minat, serta dorongan untuk menemukan sendiri.


Pandangan Model Pembelajaran Examples non Examples Menurut Ahli Pendidikan

     Model Pembelajaran Examples non Examples

Pembelajaran examples non examples sangat berorientasi pada pembelajaran kooperatif atau cooperative learning. Model pembelajaran examples non examples merupakan model pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media pembelajaran. Penggunaan media gambar ini disusun dan dirancang agar anak dapat menganalisis gambar tersebut menjadi sebuah bentuk diskripsi singkat mengenai apa yang ada di dalam gambar. 

Penggunaan model pembelajaran versi examples non examples ini lebih menekankan kepada konteks analisis siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Biasanya model ini lebih dominan digunakan di kelas tinggi, namun dapat juga digunakan di kelas rendah dengan menekankan aspek psikologis dan tingkat perkembangan siswa kelas rendah seperti: a) kemampuan berbahasa tulis dan lisan, b) kemampuan analisis ringan, dan kemampuan berinteraksi dengan siswa lainnya (Santoso, 2011: 1).

Selain itu, Santoso (2011: 1) mengungkapkan bahwa model pembelajaran examples non examples menggunakan gambar dapat melalui OHP, proyektor, ataupun yang paling sederhana adalah poster. Gambar yang kita gunakan haruslah jelas dan kelihatan dari jarak jauh, sehingga anak yang berada di belakang dapat juga melihat dengan jelas.

Menurut Widodo (2009: 1), model pembelajaran examples non examples   menggunakan contoh yang didapat dari kasus/gambar yang tentunya relevan dengan Kompetensi Dasar/KD. Sedangkan, langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut :
           1.      Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri tiga sampai empat             orang siswa.
  1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran/KD.
  2. Guru menempelkan gambar di papan tulis, ditayangkan melalui OHP atau LCD proyektor melalui komputer/laptop.
  3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada para  siswa untuk memperhatikan dan menganalisa gambar.
  4. Melalui diskusi kelompok tiga sampai empat orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas/lembar kerja.
  5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan lembar kerja/hasil diskusinya.
  6. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
  7. Kesimpulan.
Kelompok dengan nilai tertinggi diberi reward/hadiah (misal tanda bintang pada lembar kerja) lalu ditempel di dinding kelas.
Sedangkan, dalam Taniredja dkk. (2012: 99-100), langkah-langkah pembelajaran examples non examples sebagai berikut:
            1.      Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
            2.      Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/LCD.
            3.      Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk                   
                  memperhatikan/menganalisa gambar.
            4.      Melalui diskusi kelompok dua sampai tiga orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar                     tersebut dicatat pada kertas.
             5.      Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
             6.      Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang                  ingin dicapai.

              7.     Kesimpulan.

KERANGKA KONSEP STRATEGI MODEL EXAMPLES NON EXAMPLES MENURUT JOYCE dan WEIL

Joyce dan Weil (dalam Suratno, 2009: 9) menerangkan kerangka konsep terkait strategi tindakan, yang menggunakan model examples non examples, adalah sebagai berikut:  
a.       Menggeneralisasikan pasangan antara contoh dan non-contoh yang menjelaskan beberapa dari sebagian besar karakter atau atribut dari konsep baru yang ditemukan. Menyajikan itu dalam satu waktu dan meminta siswa untuk memikirkan perbedaan apa yang terdapat pada dua daftar tersebut. Selama siswa memikirkan tentang tiap examples dan non-examples tersebut, tanyakanlah pada mereka apa yang membuat kedua daftar itu berbeda;
b.      Menyiapkan examples dan non examples tambahan, mengenai konsep yang lebih spesifik untuk mendorong siswa mengecek hipotesis yang telah dibuatnya sehingga mampu memahami konsep yang baru;
c.       Meminta siswa untuk bekerja secara berpasangan untuk menggeneralisasikan konsep examples dan non-examples mereka. Setelah itu meminta tiap pasangan untuk menginformasikan di kelas untuk mendiskusikannya secara klasikal sehingga tiap siswa dapat memberikan umpan balik;

d.      Sebagai bagian penutup, adalah meminta siswa untuk mendeskripsikan konsep yang telah diperoleh dengan menggunakan karakter yang telah didapat dari examples dan non-examples.